Smart Dalam Memahami

Smart Dalam Memahi-- adalah kepintaran dalam menyimpulkan segala persepsi tentang sesuatu yang dilihat, didengar maupun diraba.

Pagi ini melakukan aktivitas seperti biasanya sebagai istri dan sebagai ibu untuk anakku yaitu aktivitas berbenah dan menghabiskan waktu pagi kira- kira 1 sampai 2 jam untuk menyiapkan sarapan sekaligus makan siang. Begitu juga dia, ya dia yang ku sebut sebagai suami, yang ku panggil dengan sebutan "uda", namun semenjak Khiran lahir panggilan itu sedikit berubah dengan panggilan "ayah" juga sama melakukan aktivitas rutinnya yaitu mencari nafkah dengan bekerja di laptopnya.
Dan Khiran juga sama, sehabis berjemur dan mandi dia pun tertidur pulas. Selang waktu kira- kira setengah jam Khiran pun bangun, ya mungkin karena sudah makin dewasa tidurnya juga tidak begitu lama di waktu pagi. Suamiku langsung beranjak dari tempat kerjanya menuju tempat tidur Khiran, Khiran digendong dan diletakkan di atas karpet dan suamiku mulai memetik gitar untuk "ngelonin" Khiran agar dia tidur lagi. Entah mengapa pagi ini dia memilih lagu Slank, aku tidak tau apa judul lagu tersebut tetapi aku ingat beberapa liriknya yang dia ganti dengan namaku dan nama Khiran, kira- kira seperti ini:
Uni tolong katakan padaku berapa biaya masuk sekolah
Kalau sakit berapa biayanya
Bisakah kita merawat Khiran di negeri ini
Uni tolong jangan biasakan Khiran bermain dengan Toys Story dan makan di Mc'D
Biasakan dia bermain congklak dan makan di lesehan
Bisakah kita mendidik Khiran
Di negeri ini
Kurang lebih seperti itu lirik lagu yang dia senandungkan pagi ini untuk anaknya, dan lirik lagu tersebut belum sempurna seperti lirik lagu Slank, akan tetapi aku menangkapnya demikian.
Setelah mendengarkan lagu itu, tersentak aku berpikir dan berkata di dalam hati "memang betul ya tentang pesan yang disampaikan oleh lagu itu, memang betul juga "dapatkah aku dan suamiku merawat, mendidik, dan membesarkan Khiran dengan kebiasaan ketimuran yang salah satunya adalah sopan santun berbicara kepada kedua orangtua, bagaimana berpakaian, bagaimana memperlakukan lawan jenis dan sebagainya", dan memang betul juga biaya untuk menyekolahkan, memberikan dia pendidikan tidak murah". 

Aku dan suamiku bahkan kita semua para pembaca mungkin atau pasti bisa memberikan apa yang diinginkan anak, jika kondisinya tidak bisa, sebagai orangtua pasti mencoba dengan sekuat tenaga memberikan apa yang diinginkan anak, yang bahkan terkadang keinginan anak tersebut merupakan penyebab yang menjadikan perkembangan mentalnya menjadi lebih buruk, akan tetapi kita yang namanya orangtua melihat anak yang murung pasti mencoba memberikan apa yang dia inginkan agar si anak terlihat ceria tanpa memandang jauh ke depan. 

Aku yang baru 3 bulan menjadi orangtua menginginkan yang terbaik untuk anak, yang memiliki pemikiran "baik itu mahal", secara pribadi makan di tempat yang mewah, berbelanja pakaian bermerek memberikan kepuasan tersendiri bagiku. Mengeluarkan uang banyak, membelikan Khiran maianan yang bagus, baju yang bermerek, itu yang aku rencanakan dari semenjak Khiran lahir. Semakin banyak aku mempelajari tumbuh kembang Khiran di internet semakin aku merencanakan membelikan permainan edukasi yang bagus- bagus. Akan tetapi aku berpikir kembali, apakah benar- benar itu yang dibutuhkan Khiran? Apakah benar- benar barang- barang bagus itu menjamin Khiran menjadi anak yang soleh dan pintar? Siapa yang tahu! tidak ada jawaban pasti untuk itu kecuali orangtuanya sendiri. 
berpikiran modern tentang kebutuhan anak itu memang bagus sebagai tolak ukur untuk kita para orangtua agar memberikan perawatan, pengasuhan dan stimulus yang baik dan tepat kepada anak. Ali bin Abi Thalib bersabda bahwa "Asuhlah anakmu sesuai zamannya". Aku tau Khiran lahir di zaman yang serba canggih, serba modern, dan serba instan. Berarti aku harus membesarkan Khiran dengan semua perkembangan zaman itu dengan batasan dan dengan arahan yang tepat, sebagaimana kita tau apa saja sudah masuk ke Indonesia, budaya luar pun menjamur di hamparan negeri ini. 

Budaya sangat mempengaruhi pola pikir dan kebiasaan seseorang, yang tadinya hanya suka dengan makanan tradisional akan tetapi sekrang suka dengan makanan instan ala barat yang isntan, senang dengan permainan HP yang membuat komunikasi hanya sau arah. 

Dapatkah aku dan suamiku menghadapi ini semua? tentunya dapat dengan cara:
1. Memberikan pendidikan agama semenjak dini
2. Memberikan model yang baik bagi si anak
3. Membatasi penggunaan gadget
4. Memberikan aturan yang dibuat secara bersama
5. Mengedepankan komunikasi yang transparan antar anggota keluarga
6. Selalu menyisihkan wktu untuk Quality time bersama kelurga
7. Saling menghargai dan saling memberi solusi pada setiap permasalahan
8. Saling percaya


Mari dicoba ! Mudah- mudahan kegundahan kita terminimalisir. 



Post a comment for "Smart Dalam Memahami"

Berlangganan via Email